Tuesday, August 3, 2010

Yang Tak Ingin Dilupakan - Gendjer-Gendjer sayup memanggil

Sekitar Oktober 2008, Anita Barraud, seorang reporter dari ABC Australia, mendatangi saya dan mewawancara tentang isu komunisme paska orde baru. Saya dinilai sebagai rapper perempuan muda yang bebas mengekspresikan diri dan layak mewakili kaum muda berekspresi bebas lainnya. Hal itu saya dengar setelah kumpulan wawancara itu di siarkan lewat ABC dan BBC pada bulan Februari 2009. Dengan sangat lugunya, saya menceritakan tentang keluarga Kakung saya yang tentara dan Uti (nenek) yang dulunya bangga mendongeng tentang Kakung yang gagah berani memberantas PKI saat umur saya kira-kira 6 tahunan. Jaman itu sampai tahun '98, saya membenci film yang diputar tiap tanggal 30 September. Takutnya setengah mati.

Kurang mengerti akan mengapa isu ini banyak diperdebatkan, namun di titik tersebut, saat saya mulai mengenal 'dunia' saya sendiri di tahun 2008, di situ saya tahu bahwa ada sejarah yang ditutupi. Disebutkan sekitar 200.000-500.000 terbunuh karena tuduhan 'komunis'. Saya tidak menemukan angka pada laman bahasa Indonesia di wikipedia. Barusan saya menerima informasi, bahwa Kakung melindungi para PKI yang ada dalam kampung. Mengatakan pada atasannya, bahwa mereka ada di bawah lindungannya. Saya juga mendengar bahwa Uti terpaksa harus dipersenjatai karena keluarga terancam menerima pembalasan dari PKI. Namun saya juga baru tahu, bahwa kenyataannya kami masih utuh dan sehat, Kakung dan Uti sungguh mencoba melakukan yang terbaik bagi keluarganya dan masyarakat.

Isu ini masih terus terngiang di telinga hati saya. Sampai akhirnya suatu hari saya memutuskan untuk menyanyikan lagu Gendjer-Gendjer yang pernah dinyanyikan oleh Bing Slamet dan Lilis Suryani, dan diplesetkan oleh entah. Diganti semena-mena dengan mengganti Gendjer-Gendjer menjadi 'Jendral-jendral'. Tujuan saya sebetulnya sederhana. Lagu ini buat saya sangat indah dan saya penggemar sayur genjer. Mendengar kenyataan bahwa lagu ini dilarang untuk dinyanyikan sebetulnya menyakitkan hati saya. Saya suka kultur pertanian di Indonesia dan betapa itu menjadikan kita Nusantara yang seharusnya tak perlu menggali saja sebenarnya sudah kaya (kata Pak Karno). Saya ingin lagu ini terus dikumandangkan sebagai simbol kesederhanaan yang kita miliki sebagai bangsa, memakan tumbuhan liar sebagai pelengkap nasi dan jauh dari fitnah komunisme. Sungguh tidak ada yang salah pada lagu ini.

Memicu kontroversikah lagu ini jika dibawakan di masa kini? Mungkin.. Karena pada sejarah yang tertutupi mengatakan, banyak kaum tak berdosa yang ikut
terbunuh. Cerita hanya tersebar secara 'tutur' dibanding 'tulis', layaknya budaya Jawa yang turun temurun. Sesederhana apapun alasannya, semua yang berkaitan dengan jaman Orde Baru tidak akan dianggap sederhana.

Konon di kawasan Baung, Purwodadi, secara 'tutur' penduduk setempat mengatakan bahwa di sana terdapat pekuburan PKI. Saya yakin maksudnya adalah tempat dibuangnya jasad para penduduk desa yang entah memang telah masuk dalam partai tersebut atau memang murni Jawa yang dulunya menganut animisme. Di tahun tersebut, apapun yang tanpa agama dapat dianggap PKI. Padahal tidak mesti seperti itu. Sewaktu saya, sebagai EngageMedia mengorganisir Camp Sambel untuk para video aktifis se-Nusantara (Malaysia-Indonesia-Timor Leste) di kawasan tersebut, pada akhir acara saya melakukan sebuah pertunjukan. Dengan gitar dan dibantu teman saya, Donny, saya membawakan lagu rap dari TwinSista dan juga beberapa lagu lainnya serta ditutup dengan Gendjer-Gendjer.

Saya sudah diperingatkan oleh penduduk setempat untuk tidak menyanyikan lagu tersebut. Tapi saya bilang, "Saya tidak ada maksud jahat. Mereka pasti mengerti kalau memang mereka ada". Dengan tidak memperdulikan peringatan penduduk, lagu tersebut pun terlantuntkan dengan indah dan khusyuk. Sebentar setelah saya berhenti menyanyikan lagu dan pergi sejenak ke ruang komputer, listrik di seluruh desa pun mati. Rasa takut pun datang, entah mengapa. Karena saya bersama adik saya yang masih 8 tahun, tangannya saya genggam erat dan berusaha tenang.

Kembali ke kerumunan peserta camp, penduduk setempat menghampiri saya, menyuruh kami bergandengan tangan entah kenapa. Waktu itu saya cuma bicara pada mas Wandi. Dia cuma berkata, "ah.. ini tidak ada hubungannya". Saya dihampiri lagi. Mereka bilang, "tolong mbak.. yang penting mbak jangan sendirian. sekarang mbak baca doa menurut keyakinan mbak saja. Karena mbak tadi menyanyikan lagu Gendjer-Gendjer tanpa mengajak 'mereka' untuk gabung". Spontan saya langsung minta maaf pada siapapun yang gentayangan. Dalam hari saya berkata, "sungguh, saya cuma berusaha tetap ingat pada sejarah yang menurut saya benar".

Lampu kembali nyala. Yang tahu hanya beberapa orang saja termasuk adik saya. Perasaan saya berubah marah ketika melihat kenyataan bahwa adik saya pucat ketakutan. Tidak bisa saya biarkan begitu saja. Saya kembali menyanyi dengan riangnya supaya adik berhenti ketakutan.

Penduduk lokal datang lagi. Kali ini dengan perintah. "Mbak.. katanya minta dibakarkan ayam 2 potong dan minta mbak yang bawa ke dapur untuk dikasihkan kepada juru kunci, Pak Tris". Jadi saya kembali menyimpulkan, rupanya 'mereka' tidak marah sama sekali, melainkan ingin menjadi bagian dari pesta kami, para aktifis yang selalu mengenang kepergian mereka yang sia-sia. Saya membakar ayam-ayam itu dengan ikhlas. Saya hampiri Pak Tris dan berkata, "Niki Pak.. Sampeyan ngomong nggih.. Kulo mboten onten niat elek" (Ini pak.. Anda bilang ya.. saya tidak ada niat jelek).

Pada titik ini saya merasa ini adalah sebuah restu dari 'mereka' untuk terus menyanyikan lagu indah ini kapan pun saya mau. Selain itu, saya merasa mencuatnya 'mereka' dengan apapun sinyal yang mereka buat, lampu mati, minta sesaji dan yang lainnya, adalah pertanda bahwa 'mereka' tidak ingin dilupakan.