Thursday, November 19, 2009

Harapan vs Ironi (no visa extention for me)

Hari ini adalah titik di mana saya berharap terlahir sebagai warga negara Amerika atau Eropa. Tapi jangan khawatir, fase seperti ini tidak sering terjadi. Saya bisa meyakinkan kalian kalau saya tidak berhenti bersyukur terlahir di Indonesia. Tapi terkadang, memegang paspor yang setiap kali memasuki negara besar harus melalui proses yang panjang dan berbelit-belit membuat saya merasa terisolasi dan tidak memiliki kesempatan untuk berbuat lebih.

Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa Konferensi Perubahan Iklim 2009 di Copenhagen sudah semakin dekat. Namun saya yakin tidak banyak yang tahu bahwa di dalamnya orang-orang dengan peran besar di negaranya masing-masing cuma berkumpul untuk barter CO2. Padahal yang kita perlukan adalah benar-benar menurunkan kadar CO2 di atmosfir kita, jika tidak film 2012 yang sedang premiere di mana-mana itu bisa jadi benar adanya. Semua harus mulai sadar, bumi telah berubah, bahkan warna di danau Kelimutu pun sudah tidak 3 lagi. Tiga danau tersebut warnanya kini sama. Bukti bahwa perubahan temperatur merubah ekosistem di dalam danau tersebut sehingga warnanya pun ikut berubah.

Sebelum para peserta konferensi mendatangi Copenhagen awal Desember nanti, awal November kemarin mereka mengadakan pra-meeting di Barcelona. Saya ikut bergabung di salah satu aksi yang di adakan di bilangan Barceloneta saat mereka makan malam di restoran yang cukup mewah. Kami mengadakan noise intervention. Menabuh drum dan perkusi apa saja yang bisa dibawa dari rumah. Tapi tentu saja kita melakukannya dengan damai. Ketika polisi datang, kami bicara sedikit. Peserta konferensi tersebut tentu tidak 100% pedagang CO2, salah satu dari mereka berbicara dengan kami dan menerima lembaran analisa dan kemauan kami akan perubahan yang positif.

Sungguh ironi akan kenyataan bahwa saya hanya 1,5 jam terbang ke Copenhagen, tapi karena visa yang tidak bisa diperpanjang saya tidak bisa ikut aksi intervensi yang lebih besar. Satu kontainer sepeda akan dikirim dari UK dan Filastine akan berurusan dengan sound design nya. Memasang 1 set loud speaker dan mungkin 4 megaphone di pasang di sepeda dan menghasilkan ambience yang pastinya akan cukup provokatif namun tetap terdengar indah. Di titik inilah saya berharap terlahir di negara makmur, sehingga tidak perlu khawatir akan visa yang tidak bisa diperpanjang. Kalau saya mau sebetulnya bisa saja kembali ke Indonesia sebentar untuk membuat visa bisnis karena kebetulan organisasi tempat saya bekerja memang harus menugaskan salah satu orang untuk menyebarkan DVD kompilasi yang kami buat. Namun apakah tidak menjadi suatu bentuk hipokrasi sementara saya tahu bahwa pesawat terbang adalah transportasi yang paling polutif dibanding transportasi lainnya? Saya pikir terbang ribuan kilo berkali-kali juga berarti tidak menunjukkan keinginan akan perubahan.



link: http://www.youtube.com/watch?v=xZtUTk6Iz2E

Monday, November 16, 2009

Apa cita-cita mu, anak-anak? (++ one performance in TubeKlub, Salzburg)

Duduk di bangku TK, ibu guru selalu tanya, "apa cita-cita mu, anak-anak?". Waktu itu tentu saja saya bingung dan memilih jawaban standar. Jadi dokter, pilot, apapun yang kira-kira waktu itu cukup populer untuk disebutkan oleh anak-anak. Di bangku SD, saya sudah pakai kostum ala rocker, menyanyikan lagu dari Mel Shandy (jadul, kan?) yang waktu itu kebetulan musiknya dibuat oleh Abba saya (Abba=panggilan untuk bapak biologis saya). Kaos kaki sepanjang lutut, sabuk rantai, jaket jeans dan sepatu boot.. 4 orang yang jika kami berfoto bersama, saya setinggi perut mereka, mengiringi saya bernyanyi. Hari itu saya mulai punya cita-cita. 'Jika saya besar nanti, saya mau jadi penyanyi'. Tapi tentu Abba berfikir berbeda. Di jaman itu (90an) atau hingga sekarang, penyanyi perempuan kerap mendapat pandangan negatif. Abba tidak ingin anak perempuannya dipandang negatif (standar pikiran bapak-bapak banget). Tidak ada yang dapat dipersalahkan atas anggapan ini. Bisa jadi tekanan norma atau sejarah mengsle yang membuat anggapan perempuan hari ini jadi kacau balau. Padahal Ibu Kartini sudah susah-susah mencanangkan gerakan anti diskriminasi gender.

Terbayang bagaimana sejak kecil saya bertarung dengan anggapan orang lain. Pandangan skeptikal pastilah muncul ketika saya beranjak dewasa. Pulang malam setelah nongkrong dengan teman-teman Malang Hiphop Community karena kami ada latihan atau take vocal yang saat itu masih menggunakan mic Rp 10.000,- yang di gantung di pojokan kamar PQ (Psychopatic). Saya masih ingat saat itu tetangga saya berfikir saya hamil karena pake celana gombrong dan suka pulang larut malam. Tidak juga saya perlu menjelaskan bahwa yang saya lakukan adalah berusaha melahirkan sebuah album kompilasi. Mereka tidak akan pernah paham.

Beberapa hari lalu, Facebook wall saya penuh dengan ucapan selamat ulang tahun dengan akhiran, "semoga cita-cita mu tercapai". Di titik tersebut saya mulai berfikir untuk membuat cita-cita baru. Karena berada di atas panggung dan menyanyi di hadapan orang banyak sudah tercapai hingga hari ini.. Mungkin saya bisa beri gambaran tentang bagaimana cita-cita itu kini tercapai (http://www.youtube.com/watch?v=Bs02Nslqv0g)

Namun cita-cita baru itu masih dalam tahap pemikiran. Mungkin teman-teman ada saran?

Sedikit informasi tentang gig selanjutnya di Barcelona tanggal 20 November nanti, kami baru mendapat kabar bahwa polisi melarang pengunjung club tersebut untuk berdansa. Kalau joget-joget nanti dikenakan denda. (HA?) Sekarang kami sedang duduk dan bingung mau perform seperti apa... (joget kok di denda.. untung saya tidak pernah punya cita-cita untuk jadi polisi - yang sepertinya sekarang agak hangat dibahas di surat kabar negara kita juga..). Siap, laksanakan!