Sunday, October 25, 2009

Mantan Penjajah, Penjajahan Budaya

22 Oktober 2009
Memasuki Rotterdam yang sampai kini menjadi pelabuhan kapal-kapal dagang di Belanda, tentu saja perasaan dendam akan 350 tahun penjajahan terhadap Indonesia tidak begitu terasa. Ketika saya lahir, Pak Harto sudah jadi bapak negara dan bapak pembangunan. Tidak ada lagi meneer-meneer yang bilang, "je orang Java!". Yang ada cuma orang-orang Jakarta yang bilang, "Dasar Jawa, lo!". Dunia sudah berubah dan perspektif akan kejadian sebelum merdeka sudah selayaknya di-update seperti operating system yang ada di komputer kita. Penting untuk paham akan sejarah, namun tidak begitu penting untuk terperangkap di dalam dimensi sejarah.

Kami kehilangan satu tas penuh peralatan perkusi di bandara Schipol, Amsterdam. Wajah Grey merah dan tidak kunjung padam karena pelayanan lewat telepon, internet ataupun tatap muka dengan petugas tidak membantu sama sekali. Malam itu di Poortgebouw (http://www.poortgebouw.nl), gedung ex-squatted yang terancam dikosongkan (lagi), kami tampil dengan banyak sekali kekurangan alat namun penuh improvisasi. Video dan audio yang biasa di trigger dengan Rolland SPS pun diganti dengan menekan keyboard, 'x-x-y-y-l-l-l'.. Pusat informasi kehilangan menelpon jam 10 malam, tepat sebelum kami tampil. Mereka bilang, "barang anda sudah ditemukan dan dapat diambil esok hari". Ingin rasanya memaki perusahaan penerbangan tersebut. Namun kami paham, orang-orang yang ditugaskan untuk menjawab keluhan kami tidak lain adalah mereka yang membaca peraturan tentang 'bagaimana menangani keluhan'. Semua jawaban terstruktur, matematis dan monoton. Mirip dengan call center provider-provider telefon genggam negara kita.

Tentang Poortgebouw (http://en.wikipedia.org/wiki/Poortgebouw), ruang terbuka ini mulai terancam akan diubah menjadi gedung perkantoran yang eksklusif. Padahal sudah jelas-jelas Rotterdam tidak memiliki begitu banyak penduduk. Satu-satunya cara mereka untuk bertahan dari krisis moneter adalah membangun dan membangun. Tanda-tanda akan tergusurnya budaya heterogen mulai tampak di setiap sudut bumi. Penjajahan budaya semakin tampak jelas dan bukan rahasia lagi. Sepertinya perlahan-lahan seluruh lapisan bumi akan terlihat sama. Penuh gedung tinggi berkaca tampak modern dan futuristik (dan kosong tak berpenghuni). Ketakutan saya akan masa depan terasa kuat saat melihat jembatan Erasmus Huis dari balik jendela salah satu ruangan di Poortgebouw.

23 Oktober 2009
Amsterdam mungkin tempat paling turistik di Belanda. Tidak begitu terlihat kincir-kincir angin yang ternama di seluruh dunia. Mungkin semua sudah di impor ke Indonesia untuk dekorasi Holland Bakery. Keluar dari stasiun, saya disambut dengan papan-papan 'under-costruction' yang mengelilingi stasiun pusat, namun kali ini berbeda dari bisanya. Seni grafis milik Shepherd Fairey (http://en.wikipedia.org/wiki/Shepard_Fairey) menimbulkan banyak kontroversial pada awalnya. "Obey Giant" adalah salah satu proyek ternamanya. Sindiran politisnya membuat Fairey berurusan dengan hukum berkali-kali, namun sekarang seni yang ditawarkan oleh Fairey terbang dari Amerika sampai ke Amsterdam (dan seluruh dunia).

Shepherd Fairey-AMS Centraal

Obey-AMS Centraal

Lalu percakapan dengan bapak tua dalam trem tentang Indonesia cukup menggelitik perut saya. DIa bilang bahwa dia satu-satunya anak dari orang tuanya yang tidak dilahirkan di Indonesia. Menurut pengakuannya, seluruh keluarganya diusir oleh presiden pertama kita saat Papua Nugini memutuskan untuk memisahkan diri dari Indonesia. Saya kurang bisa menempatkan perspektif saya terhadap pernyataan tersebut. Yang saya bisa cuma maklum bahwa Patih Gajah Mada pernah ada dan meneriakkan Sumpah Palapa. Dia rela tidak makan rempah (pala dalam bahasa Jawa) apabila Nusantara tidak bersatu. Namun siapa yang memberi batas pada Nusantara itu sendiri tidak pernah jelas. Saya tidak begitu paham akan batas. Secara politis atau pun lainnya. Atau mungkin saya tidak mau paham. Karena mungkin bagi saya rempah terlalu sedap untuk dilewatkan di kehidupan ini. Pernyataan selanjutnya dari saya jangan terlalu dianggap serius. Menurut saya Belanda pernah datang ke Indonesia cuma karena makanan saja. Bapak tua ini berkata, "makanan nasional Belanda ya makanan Indonesia".

Informasi tentang gig yang mengundang kami. Sebuah konferensi tentang Dance Music sedang diadakan. Ada sedikit sisa uang untuk memberi ruang bagi musik elektronik alternatif. Dan di sanalah kami tampil. Dalam hati saya bahagia meski harus tampil di ruangan yang tidak dapat didefinisikan aliran musiknya. Karena ketika sejenak kami mampir dengan sepeda pinjaman dari panitia ke ruang konferensi tersebut, yang kami dengar hanyalah musik yang monoton yang tidak dapat dibedakan antara satu judul dengan lainnya, serta petugas keamanan mengusir kami dari pintu ketika kami sedang membaca nama band kami di dalam buku jadwal yang mereka sediakan di depan pintu. Sungguh ironi mengetahui kenyataan bahwa meski kami berada di acara yang sama, beda antara kami dan mereka adalah 180 derajat.

24 Oktober 2009
Thionville. Sebuah kota tidur karena penduduknya hanya pulang untuk istirahat. Sebagian besar penduduk Thionville bekerja di Luxembourg - negara yang besarnya cuma se Jogja, terpisah dari Perancis dan Belgia. Ketika memasuki ruangan tempat acara saya langsung bertanya, "Gedung apa ini?". Kami akan tampil di dalam gedung tempat walikota biasanya rapat. Kota ini bahkan tidak memiliki ruang ekspresi. Namun tidak jadi masalah. Perancis sangat kaya dan peduli seni. Mereka bisa mendapatkan uang dalam jumlah besar, mendatangkan artis internasional dari Spanyol dan Amerika untuk tampil dalam festival kota kecil dengan sound system, penonton dan ruang yang terbatas. Acara-acara di Perancis tidak pernah mengecewakan. Meski yang menonton tidak ratusan orang, namun sambutan dan fasilitas yang diberikan sungguh manis dan indah. Awalnya kami cukup skeptikal akan acara ini. karena keramahan khas desa Eropa membuat kami berfikir, "siapa yang akan tertarik akan musik berisik yang kami tawarkan?". Namun acara ini membuat box merchandise kami kosong. Semua CD terjual dan masih banyak yang meminta informasi tentang di mana mereka bisa membelinya. Di Perancis, kami tidak pernah bisa menduga apa yang terjadi di akhir acara.

City Hall Thionville

Wednesday, October 21, 2009

Antara HipHop, Punk Anarkis dan imigran

Paella at Forat de Versonya

Minggu, 18 Oktober 2009
Secara tidak sengaja melewati sebuat taman menuju ke pasar, Forat de Versonya, yang berarti 'the hole of shame', tampak sibuk dengan wajan-wajan besar untuk membuat paella, free market, dan radio komunitas. Sebuah pojokan kecil dengan pohon digantungi foto-foto sejarah singkat taman ini juga siap membuka mata para pengunjung.

Saya dan Grey menghentikan sepeda kami dan berbicara sedikit dengan orang sekitar. Pesta besar akan diadakan hari ini. Bahkan sebuah set panggung telah dipersiapkan.

Sekilas cerita tentang Forat de Versonya, taman yang tidak akan anda temukan di peta Barcelona karena namanya sangat politis.. beberapa tahun lalu, di sekitaran taman ini terdapat beberapa gedung apartemen kosong yang dihuni oleh imigran dari Maroko, Turki dan beberapa negara timur tengah lainnya. Tidak hanya itu, kelompok punk anarkis juga menempati salah satu gedung tersebut. Istilah yang umum adalah "squatting", menempati gedung kosong secara liar. Kultur ini cukup kuat di sekitaran Eropa. Saya sempat mengunjungi salah satu squat yang telah diduduki secara 9 tahun di Amsterdam. Namun Barcelona sedikit berbeda. Jika di Amsterdam gedung yang telah lama tidak ditinggali memang boleh ditempati dengan syarat tertentu, di Barcelona kegiatan ini cukup menimbulkan kontroversi.

Forat de Versonya telah dijadwalkan menjadi kawasan yang lebih modern. Entah pada tahun berapa saya kurang begitu dapat informasinya, namun di tahun 2003 masih terdapat foto penangkapan para penduduk yang melakukan demonstrasi atas pembongkaran yang dilakukan pemerintah. Sebelum taman ini dibongkar, dulunya para imigran menanam tanaman organik dan memagarinya dengan rangka ban sepeda bekas. Kegiatan sosial dan politik dilakukan rutin. Taman ini menjadi hidup dan hangat. Transformasi menjadi gedung yang lebih modern dan taman yang tidak lagi hidup pun memang terlaksana. Namun hingga saat ini kegiatan makan siang bersama dan pasar bebas serta pesta sampai malam untuk mengingat pergerakan ini masih tetap berjalan.

Duduk di taman ini bersama ratusan imigran dan punk anarkis membuat saya merasa nyaman. Kami ikut berbaris untuk mendapatkan makan siang "paella" yang dijual secara sukarela. Terlihat lelaki yang ada di dalam foto penangkapan tahun 2003 membawa kaleng dan meminta sumbangan pada kami yang antri. Suaranya lantang, wajahnya tegas seperti tidak bisa lagi disakiti, senyumnya lebar tidak takut mati.

Tak lama setelah kami sampai di rumah, kami mendapat kabar bahwa teman-teman rapper dari Kuba dan Senegal akan tampil lagi malam ini di Forat de Versonya. Kami kembali lagi ke sana. Semakin larut, semakin ramai. Dengan irama hiphop, semua yang ada di sekitar taman berkumpul di depan panggung dan berdansa bersama diselimuti suasana dan lirik yang politis. Semuanya termasuk teman-teman hiphop, punk anarkis dan para imigran.

Forat de Versonya

Monday, October 12, 2009

Hangatnya Barcelona, Slaughter house in Odense, No Pasta for Brussels.

Setelah berminggu-minggu hadapi dinginnya Jerman, akhirnya bisa juga menyentuh matahari hangat di Barcelona. Tepatnya tanggal 7 minggu lalu, datang di stasiun Barcelona jam 10.30 malam, Grey menjemput di depan pintu keluar dengan sepeda hitamnya. Kami lalu mengambil salah satu sepeda Bicing, fasilitas sepeda umum yang dapat digunakan oleh penduduk Barcelona, untuk saya gunakan. Grey membawa 15 kilo koper saya di keranjang depan sepedanya.

Mungkin tidak banyak yang tahu alasan mengapa kami berkolaborasi. Salah satu alasannya adalah bahwa kami memiliki pandangan yang sama tentang bagaimana cara hidup yang tepat (tentu saja menurut kani). Alat transportasi kami sama. Saya juga memilih sepeda untuk transportasi saya di Jogja. Sebisa mungkin kami menjaga keseimbangan alam yang mungkin pada kenyataannya perubahan yang kami inginkan tidak akan terjadi.. terlalu banyak sistem busuk yang telah terbangun untuk dilawan, yang bisa kami lakukan adalah memperbaiki hidup kami dalam skala yang lebih sederhana dan ramah lingkungan.

Baru 5 menit berjalan, Grey mengajukan proposal untuk menonton sederetan rapper dari Kuba. Teman serumah kami, Oriana, sedang menjalankan sebuah proyek fotografi. Oriana sudah melakukan banyak perjalanan untuk melihat bagaimana hiphop menjadi sebuah senjata untuk perubahan sosial di berbagai negara dan pada akhirnya, beberapa rapper bisa melakukan perjalanan ke Barcelona untuk beberapa set pertunjukan.

Sejenak menaruh barang-barang di apartemen Grey, kami langsung menuju ke sebuah club di tengah kota Barcelona. Melihat teman-teman dari Kuba di panggung, sekali lagi saya teringat dengan komunitas hiphop di Malang dan Surabaya di tahun 2000. Dulu kami memiliki energi yang sama dengan mereka. Tergolong tidak mampu, mencoba menyuarakan ide-ide kami, tidak terlalu banyak melakukan perjalanan ke luar kota, tidak heran jika musik dan lirik yang kami bawakan terdengar gelap bahkan terkadang marah.

Mungkin kita bisa sedikit belajar bersama lewat pengalaman Oriana:
- http://orianomada.blip.tv/#766035
- http://flickr.com/photos/orianomada

Sebelum esoknya kami harus berangkat ke Denmark yang dingin, masih ada beberapa bagian performance yang harus kami sempurnakan. Saya memutuskan untuk mengiyakan ajakan Grey untuk main drum padahal belum pernah belajar. Untuk itu saya harus berlatih intensif supaya penonton yakin saya sudah tahunan main drum :). Sayangnya kami tidak bisa berlatih drum di Hangar karena terlalu berisik. Maka kami memutuskan untuk berlatih drum di bawah sinar bulan di pelabuhan yang tertutup untuk umum. Kami bersembunyi di tembok beton perengan pelabuhan agar drum kami tidak terdengar. Berharap petugas keamanan tidak menemukan kami. Untuk memanjat kembali perengan tersebut, saya harus rela melukai lutut saya. Namun sensasi main drum beradu dengan gemuruh ombak dan perasaan terancam diusir oleh petugas setempat membuat luka kecil itu tidak ada artinya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

9 Oktober, 2009

Berlari jam 8 pagi menuju Metro (transportasi umum bawah tanah) Bogatell, pesawat kami terbang jam 12an. Sayangnya terminal baru Barcelona harus ditempuh 10 menit dari pemberhentian terakhir di bandara. Artinya, kami salah prediksi dan harus cemas akan tertinggal pesawat. Namun untungnya online check in machine mempermudah segalanya.. Tidak hanya itu, Grey bilang, "you will see everything is late in Barcelona". Pesawat boarding 15 menit terlambat.

Dari bandara di Copenhagen, Denmark, kami masih harus naik kereta menuju ke Odense. Di stasiun kereta Odense, kami akan dijemput oleh panitia. Kami berdua terkejut ketika mendengarkan harga tiket per orang menuju Odense 35 euro! Kami menolak melakukan reservasi tempat duduk karena kami pikir sistem nya akan sama saja seperti negara Eropa lainnya. Sayangnya kami harus berakhir duduk di lantai karena keretanya full-booked.

Sampai di Odense, kami harus langsung ke venue untuk sound-check. Mengejutkan ketika kami tahu acara akan diadakan di bekas tempat pemotongan hewan ternak (sapi, babi, etc). Tempat pembunuhan binatang yang akhirnya di bungkus dalam plastik lalu dimasukkan ke dalam panci untuk dimakan oleh kita, tepatnya. Krisis ekonomi membuat tempat ini terbengkalai dan dapat disewa murah oleh panitia Phono Festival (http://www.phonofestival.dk/). Tidak terlalu banyak masalah teknis yang kami hadapi. Seperti biasa di akhir acara kami tutup dengan aksi perkusi diantara penonton.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

10 Oktober 2009

Bangun pagi-pagi lagi setelah malam yang melelahkan. Bandara lagi.. hegh.. kali ini tidak ada transit selain jam 10 pagi dari hotel. Artinya, kami harus menunggu beberapa jam di bandara Copenhagen dengan tidak banyak pilihan makanan. Kami mencuri beberapa makanan dari breakfast yang disediakan. Karena kami tidak bisa membayangkan makan Burger King di sana. Hmm.. mungkin tidak bisa juga dibilang mencuri karena itu hak kami. Cuma saja pandangan sosial akan menganggap kami mencuri karena tidak tepat membawa banyak makanan dari sarapan super indah yang disediakan oleh hotel.

Ada email dari panitia di Brussels, "ada vegetarian pasta hangat tersedia ketika kalian datang". Yes! Acara di sini sungguh berbeda dari Odense. No luxury. Dan tepat. Setelah 11 jam perjalanan dari Odense, pasta itu tidak pernah tersedia sampai akhir acara. Tidak hanya itu. Saya kehilangan megaphone 1 menit sebelum panggung harus dimulai. Pada akhirnya memang dikembalikan, namun kami harus menyuap dengan satu CD Filastine gratis pada orang yang menemukannya.

Dibalik semua kekurangan tersebut, atmosfir dari acara ini seperti kebanyakan atmosfir yang kami inginkan. Tidak jarang suasana festival terasa kurang hangat meski kami dikelilingi kenyamanan. Berada diantara anak muda dreadlock 20 tahunan, suasana kolektif, venue dengan muatan 200-300 orang di sebuah rumah yang dihuni banyak orang, punk style, panas, gila, dan bebas, lalu tentu saja berakhir dengan tidur di lantai di sebuah apartemen milik salah satu panitia. Namun seperti yang saya bilang, terkadang terlalu bebas sampai kami harus mencari makanan sendiri dan kehilangan megaphone yang cukup penting sebagai bagian dari set panggung kami.

Band yang mengisi acarapun bervariasi. Terdengar hardcore band lalu selanjutnya gipsy punk dengan banyak akordion dengan irama ska, DJ dengan set up yang up beat, lalu kami.. (Filastine). Apa masih terdengar teriakan penonton di akhir set kami? Ya.. tentu saja, meskipun terdengar lebih mabuk karena bir Belgia :). Kadang sulit membedakan apakah penonton berteriak karena terlalu mabuk atau memang menyukai penampilan kami.

Monday, October 5, 2009

Definisikan sendiri

Masih di sekitaran Mühlbach, Jerman. Pemberhetian sejenak sebelum 15 gigs dalam 2 bulan ke depan di Eropa...

Sejak tahun 2000, berawal dari sebuah kompetisi di Sahid Jaya Hotel, keputusan untuk menulis dan menyampaikan pesan lewat rap pun saya ambil. Terus terang pengetahuan tentang rap itu sendiri memang amat terbatas. Dan hingga saat ini emcee terbaik buat saya masih Lauryn Hill. Tidak mengalami perkembangan atau kemunduran. Memory dalam pengalaman itu sendiri pun jauh dari buruk. Suka duka dan kesederhanaan Perang Rap, konflik indah yang mengacaukan emosi, mencintai komunitasnya tanpa menerima cinta yang sama, semuanya tetap membuat saya bahagia. Sedikit orang mengerti bagaimana tahap ini bisa saya tempuh. Namun jawaban yang bisa saya tawarkan adalah, konsistensi.

Sukses, memiliki standar yang berbeda. Terkadang mencetak ribuan kopi dan muncul di setiap infotainment adalah sukses. Terkadang 3 gigs dalam 1 hari adalah sukses. Terkadang membuat acara musik untuk amal adalah sukses. Terkadang kesuksesan tidak dapat diukur dengan harta, melainkan kepuasan atas apa yang telah dilakukan. Terus terang saya bingung ketika orang mengatakan, "semoga sukses, ya!". Karena yang saya tahu, saya melakukan hal yang saya suka. Tanpa memikirkan akhir dari prosesnya. Namun, terima kasih, teman! Aku tahu itu adalah doa.

Kembali kepada kecintaan saya kepada musik rap. Kemarin, di suatu pesta yang ternyata memiliki tuan rumah anggota angkatan udara Amerika, sayup-sayup terdengar musik Black Eyed Peas dari iPod touch yang nangkring di atas loud speaker. Lelaki ini telah berpindah dari satu negara ke negara lainnya karena pekerjaannya. Sebutlah namanya Josh. Menikah dengan perempuan cantik dari Indonesia. Suasana pesta ini mirip arisan ibu-ibu di Indonesia. Semua bicara tentang bayi dan berbelanja di 'C und A'. Kenikmatan makan masakan Indonesia rasanya seperti menenggak air di kekeringan. Sungguh saya tidak keberatan berada diantara ibu-ibu cantik ini. Makanan Jerman yang kurang berwarna membuat saya menyerah untuk mendatangi acara ini..

Di tengah kebingungan bagaimana cara bersosialisasi selagi tante saya bercanda dengan teman-temannya, Josh mengajak berbicara tentang apa yang saya lakukan di Eropa.

"Saya lagi ada musical tour."
"Oh ya? main musik apa?"
" Saya nge-rap, nyanyi dan main drum"
"Apa? Rap itu bukan musik!", nadanya sedikit merendahkan.
"Maaf, tapi saya tidak setuju dengan anda"
"really? how come? Rap is just t(h)alking", Can you the 'h' that he put on his word?
"Saya memutuskan untuk serius di rap setelah mempelajari berbagai aliran musik. Setelah menyanyi Jawa, belajar piano klasik, main gamelan, sampai nyanyi soul. Saya berani bilang RAP itu musik. Sebelum jadi lagu, tentu saya pikir pada nada mana saya harus 'bicara' seperti yang anda bilang. Saya juga harus pikirkan apakah itu bisa dikomunikasikan kepada pendengar. Lalu saya pikirkan berapa banyak silabel, jumlah kata yang harus saya mampatkan. Belum lagi saya harus memikirkan bagaimana agar terdengar puitis karena saya suka puisi. Saya juga tidak bisa membuat penonton jadi bingung karena terlalu banyak yang disampaikan. Segalanya harus diseimbangkan dengan musik yang mengalun. Karena sample di dalamnya juga berpengaruh pada rap yang akan saya lontarkan. Meskipun saya hanya 'bicara', saya juga memainkan frekuensi. So i'm sorry, for me rap is musik. And i want to say more. In song, sometimes the lines is limited".

Ini momen yang mungkin bisa dibilang SUKSES. Saya merasa telah melontarkan satu ayat dari kitab hiphop. Saya tahu mungkin sebagian orang menganggap bahwa rap adalah jalan keluar bagi orang-orang yang kurang bisa menyanyi tapi ingin tampil. Tapi bapak saya yang gitaris handalpun ketika mendengar rap dari Kuba atau Meksiko bisa mengatakan bahwa mereka memiliki harga not yang berbeda dengan lainnya. NOT! Notasi! Bukankah itu ada dalam istilah musik?