Monday, October 5, 2009

Definisikan sendiri

Masih di sekitaran Mühlbach, Jerman. Pemberhetian sejenak sebelum 15 gigs dalam 2 bulan ke depan di Eropa...

Sejak tahun 2000, berawal dari sebuah kompetisi di Sahid Jaya Hotel, keputusan untuk menulis dan menyampaikan pesan lewat rap pun saya ambil. Terus terang pengetahuan tentang rap itu sendiri memang amat terbatas. Dan hingga saat ini emcee terbaik buat saya masih Lauryn Hill. Tidak mengalami perkembangan atau kemunduran. Memory dalam pengalaman itu sendiri pun jauh dari buruk. Suka duka dan kesederhanaan Perang Rap, konflik indah yang mengacaukan emosi, mencintai komunitasnya tanpa menerima cinta yang sama, semuanya tetap membuat saya bahagia. Sedikit orang mengerti bagaimana tahap ini bisa saya tempuh. Namun jawaban yang bisa saya tawarkan adalah, konsistensi.

Sukses, memiliki standar yang berbeda. Terkadang mencetak ribuan kopi dan muncul di setiap infotainment adalah sukses. Terkadang 3 gigs dalam 1 hari adalah sukses. Terkadang membuat acara musik untuk amal adalah sukses. Terkadang kesuksesan tidak dapat diukur dengan harta, melainkan kepuasan atas apa yang telah dilakukan. Terus terang saya bingung ketika orang mengatakan, "semoga sukses, ya!". Karena yang saya tahu, saya melakukan hal yang saya suka. Tanpa memikirkan akhir dari prosesnya. Namun, terima kasih, teman! Aku tahu itu adalah doa.

Kembali kepada kecintaan saya kepada musik rap. Kemarin, di suatu pesta yang ternyata memiliki tuan rumah anggota angkatan udara Amerika, sayup-sayup terdengar musik Black Eyed Peas dari iPod touch yang nangkring di atas loud speaker. Lelaki ini telah berpindah dari satu negara ke negara lainnya karena pekerjaannya. Sebutlah namanya Josh. Menikah dengan perempuan cantik dari Indonesia. Suasana pesta ini mirip arisan ibu-ibu di Indonesia. Semua bicara tentang bayi dan berbelanja di 'C und A'. Kenikmatan makan masakan Indonesia rasanya seperti menenggak air di kekeringan. Sungguh saya tidak keberatan berada diantara ibu-ibu cantik ini. Makanan Jerman yang kurang berwarna membuat saya menyerah untuk mendatangi acara ini..

Di tengah kebingungan bagaimana cara bersosialisasi selagi tante saya bercanda dengan teman-temannya, Josh mengajak berbicara tentang apa yang saya lakukan di Eropa.

"Saya lagi ada musical tour."
"Oh ya? main musik apa?"
" Saya nge-rap, nyanyi dan main drum"
"Apa? Rap itu bukan musik!", nadanya sedikit merendahkan.
"Maaf, tapi saya tidak setuju dengan anda"
"really? how come? Rap is just t(h)alking", Can you the 'h' that he put on his word?
"Saya memutuskan untuk serius di rap setelah mempelajari berbagai aliran musik. Setelah menyanyi Jawa, belajar piano klasik, main gamelan, sampai nyanyi soul. Saya berani bilang RAP itu musik. Sebelum jadi lagu, tentu saya pikir pada nada mana saya harus 'bicara' seperti yang anda bilang. Saya juga harus pikirkan apakah itu bisa dikomunikasikan kepada pendengar. Lalu saya pikirkan berapa banyak silabel, jumlah kata yang harus saya mampatkan. Belum lagi saya harus memikirkan bagaimana agar terdengar puitis karena saya suka puisi. Saya juga tidak bisa membuat penonton jadi bingung karena terlalu banyak yang disampaikan. Segalanya harus diseimbangkan dengan musik yang mengalun. Karena sample di dalamnya juga berpengaruh pada rap yang akan saya lontarkan. Meskipun saya hanya 'bicara', saya juga memainkan frekuensi. So i'm sorry, for me rap is musik. And i want to say more. In song, sometimes the lines is limited".

Ini momen yang mungkin bisa dibilang SUKSES. Saya merasa telah melontarkan satu ayat dari kitab hiphop. Saya tahu mungkin sebagian orang menganggap bahwa rap adalah jalan keluar bagi orang-orang yang kurang bisa menyanyi tapi ingin tampil. Tapi bapak saya yang gitaris handalpun ketika mendengar rap dari Kuba atau Meksiko bisa mengatakan bahwa mereka memiliki harga not yang berbeda dengan lainnya. NOT! Notasi! Bukankah itu ada dalam istilah musik?

No comments:

Post a Comment