Tuesday, December 14, 2010

We are the people with words.. - Hip Hop Lyric Critique #1, Malang

9 Desember 2010:

"maaf, Nova. HP ditaruh di tas. ini baru sampai di terminal Arjosari", itu sms dari Madiva anggota dari X-Calibour. "ok, aku jemput aja ya. ini aku baru mau berangkat".


Hujan sudah berhenti. Jalanan basah, matahari meninggalkan langit kota Malang dan lampu-lampu jalan bercermin di genangan air. Malang cukup indah menyambut semangat Madiva.


Di Soecorn sudah ada Wyna dan seperangkat soundsystem. Kursi-kursi sudah di tata di lantai paling atas, balcony yang menghadap ke Jalan Soekarno-Hatta dan pembangunan gila-gilaan di lapangan yang dulu cukup bersejarah bagi komunitas hip hop Malang dulunya. Kami suka nongkrong dan ngopi di warung Pak Ri yang punya tempe goreng paling enak se-Malang Raya menurut kami. Kami memandang jauh, tersenyum sedih karena masa itu sudah berganti.


Kabar buruknya, dua teman kami dari scene musik lain tidak jadi datang. Maka kami tidak memiliki lawan perspektif yang kami butuhkan. Tapi, tidak jadi masalah. Saya pribadi ingin melihat bagaimana kekuatan komunitas di kota Malang sekarang karena saya sudah absen kurang lebih tiga tahunan. Saya cukup terkejut melihat muka-muka lama dari delapan tahunan lalu. Diantaranya ada Da Dogers dan teman-teman Street Hip Hop, datang dengan style baju second hand seperti jaman awal kami bertemu. Wajah saya tidak bisa berhenti tersenyum. Mereka masih di sini :)


Sebetulnya ide mengadakannya forum ini adalah ketika saya menyaksikan teman rapper dari Solo yang membawakan lagu tentang "silit" atau lubang dubur. Maaf jika ini terdengar menjijikkan. Tapi saya kurang nyaman mendengar lagu ini dibawakan di tengah mall dengan penonton yang umurnya tidak bisa dibatasi. Dan cara pikir yang menyaksikan pun tidak bisa dibatasi. Bukan berarti saya tidak suka. Tapi saya lebih setuju apabila lagu tersebut dibawakan di depan gedung DPR untuk menyampaikan betapa "silit"-nya pemerintahan kita masa kini yang datang ke gedung tersebut hanya untuk pindah tidur.


Intinya adalah di mana tanggung jawab kita sebagai pelaku musik hip hop membawakan lirik kita. Sejauh mana kita menentukan "target audience". Sebisa apa kita menyamakan persepsi publik dengan apa yang kita tulis dan persembahkan ke publik.


Situasi semakin menghangat ketika salah satu teman kami, Doni Ukik, yang dulu berawal dari scene grunge dan akhirnya menemukan bahwa kita perlu menentukan identitas kita sendiri lalu menciptakan sebuah aliran musik yang dinamai ASIA-ANTIPOP, mulai angkat bicara tentang scene Hip Hop secara general. Saya sendiri mengakui bahwa pertanyaan tentang akar Hip Hop, muncul ketika Doni Ukik dan Donny Hendrawan (para anggota band Fresh Water Fish) datang

menemui saya dan Indry lalu bertanya, sebenarnya di mana "inti"nya? Benar akhirnya TwinSista menemukan bahwa Hip Hop adalah alat kami untuk menyalurkan pendapat. Dan akan seperti itu seterusnya, tanpa menutup diri pada aliran musik yang lain.


Diskusi tentang pentingnya lirik pun berkembang menjadi di mana INTI dari Hip Hop sebenarnya. Apakah ini sebuah pergerakan? Apakah ini sebuah budaya urban? Apakah ini adalah salah satu cara untuk mencari penghasilan? Apakah ini adalah sebuah bentuk pencarian eksistensi?


Sebenarnya itu mudah saja. Tidak berarti semua pertanyaan ini datang untuk menciptakan kebingungan. Tapi untuk menciptakan keberanian untuk mengambil salah satu pertanyaan tersebut dan menjawabnya serta menjadikannya prioritas. Apabila hiphop adalah 'underground', maka hip hop berperan sebagai sebuah perlawanan budaya mainstream dan berani menjadi minoritas. Berani mendekonstruksi sebuah pemahaman dan mendalami media yang sebenarnya, yang non-mainstream.


Madiva juga sempat membahas tentang ke-AKU-an dalam hiphop, yang sebetulnya intinya adalah sama dengan yang dikatakan Doni Ukik. Bagaimana kita sebagai pelaku hiphop menjadi percaya diri dalam menjalaninya. Tidak ragu-ragu dalam menciptakan budaya dan bukan hanya menjiplak budaya yang datang dari negara lain saja.


Meskipun pembahasan lirik ini menjadi lebih dalam dan filosofikal, namun kita dapat menarik kesimpulan. Yang terpenting dalam aliran musik atau scene apapun adalah FUNGSI nya. Entah itu fungsi musik yang kita bawakan atau fungsi dari kita masing-masing sebagai pelaku hip hop. Kita harus menyadari bahwa selamanya "mainstream" adalah dampak yang muncul setelah sebuah idealisme berkembang. Toleransi antara kita harus tetap berjalan dan selalu ingat bahwa selamanya toleransi dan fanatisme adalah berbeda.


Terima kasih untuk Wyna, Madiva, Doni Ukik dan semua teman yang mendukung jalannya acara ini. Saya yakin ini kita akan bertemu di diskusi-diskusi yang lainnya. IF we are rappers, we dare to sit down and talk, right? We are the people with words..




Sunday, November 7, 2010

Teman, kata-katamu adalah SIHIR

Sudah satu jam saya duduk dan membuka halaman 'new post' pada blog saya. Tapi sungguh sangat sulit untuk menulis sesuatu dan tidak dianggap menggurui. Jadi saya minta, siapapun yang membaca ini, lupakan sekolah dan kepala sekolahmu yang menandatangani peraturan-peraturan tidak bermutu. Yang melarangmu menghiasi kelasmu dengan mural dan merubahnya menjadi tembok putih membosankan. Juga lupakan gurumu yang mengira dia adalah orang yang tahu mana yang benar padahal yang dia bacakan adalah kurikulum yang harus diberikan pada mu oleh pemerintahan yang bebasis militer.

Saya adalah Nova Ruth. Teman sepermainanmu yang juga berpura-pura mengangguk saat guru kita mengatakan sesuatu. Karena kejujuran dan pendapat dalam kelas kita tidak pernah dihargai. Suara lantangmu hanya akan membuatmu dikeluarkan dari sekolah dan kau akan tersisihkan dari masyarakat karena kau tidak lulus. Saya adalah temanmu yang tetap menyanyi saat ujian matematika. Dan ketika guru kita menegurku, aku hanya akan mengubah nyanyianku menjadi gumaman lirih yang tetap kamu nikmati. Karena kamu tahu, nilai matematikaku tidak pernah mengecewakan.

Kata adalah sederhana ketika tercipta. Baru terasa kekuatannya saat kata mulai masuk ke telinga atau terekam oleh mata. Satu kata dapat mengubah dunia. Baik atau buruk, itu tergantung pada siapa yang mengatakannya. Dua hari lalu seorang teman mempersalahkan komunisme atas industri yang merajalela dan menulisnya di statusnya. Membuat saya mencekokinya dengan wikipedia. Saya memprotes kata-katanya. Karena saya tahu, dia adalah orang yang cukup penting di hip hop scene dan kata-katanya akan didengar oleh banyak orang. Sejenak saya pun paham akan kekhawatiran Madiva Man akan hip hop masa kini. Memang benar ini menghawatirkan.

Hip hop telah menjadi musik yang sangat fleksibel bagi saya. Mungkin adalah pelajaran non-militer yang paling menyenangkan yang pernah saya pelajari di hidup saya. Musik ini telah berhasil membuat siapapun produsernya menggabungkan aliran musik apapun, dangdut, rock, jazz, blues, soul, apapun, dan tetap membuat penikmatnya paling tidak menganggukkan kepala saat menikmatinya. Hip hop juga sangat berperan bagi musik yang terlupakan. Budayanya yang memotong sebagian musik lawas, membuat kita tidak pernah lupa akan musik indah. Para emcee-nya pun adalah orang yang pandai berkata-kata. Dengan mengatakan kata perkata mengikuti irama, tentu saja orang yang mendengarkan akan dapat mengingatnya lebih mudah. Tidak perduli berapa bar, bagi saya, musik hip hop dan rap adalah kombinasi yang indah.

Namun sayang beberapa pelakunya kurang bisa mengetahui perannya di dunia. Sebagian lupa bahwa kata adalah senjata. Sebagian lupa bahwa kata harus ditata dengan pikir, dikatakan dengan hati dan tetap dipertanggung jawabkan. Kata yang salah cuma akan membangkitkan kemarahan sang Kala. Ya, Bethara Kala. Penguasa waktu yang tidak semua orang menyadari bahwa dia terus memakan kita yang manja. Kata yang salah akan menyesatkan, membuat lima orang yang mendengarkannya akan menyampaikan kepada dua puluh lima orang yang lainnya dan begitu seterusnya. Lalu kemudian waktu berbicara. Kata yang salah akan mulai menghancurkan seiring dengan berjalannya waktu. Dan di situlah titik penyesalan bagi siapapun yang telah mengatakan sesuatu yang salah.

Nama saya Nova Ruth, saya telah berada di kelas yang sama dengan kalian selama sepuluh tahun. Saya khawatir senjata kita bukan hanya mic, tapi juga keypad kecil berinternet atau keyboard dengan layar 14 inchi di depan kita. Sebagian kita telah menganggap kita bisa bicara dengan Tuhan melalui update status, menjadi nabi dalam Twitter dan memiliki berhala bernama BlackBerry. Jika kau teman sebangkuku, saya mungkin akan mencubitmu sedikit dengan kasih sayang dan berkata, "teman, kata-katamu adalah sihir. Cobalah lebih bertanggung jawab dengannya". Saya berharap kamu akan mengatakannya pada teman di belakangmu dan begitu seterusnya.

Mungkin ada baiknya kita mendengar salah satu murid terbaik hip hop yang tidak pernah disayang gurunya karena dia terlalu banyak mengatakan 'fuck' di setiap liriknya. But what he said is truly magical.

Immortal Technique - The Message and the money


Saturday, September 25, 2010

Ketika rapper dikumpulkan di ILMU festival 2010

Banyak ocehan! Itu yang terjadi. Tapi tidak ada satu pun yang mengarah ke vandalisme atau menimbulkan pertikaian. Respect, ya :)



Butuh waktu agak lama untuk memikirkan apa yang harus saya tulis dengan tulus tentang ILMU festival tahun 2010. Saya pikir tidak begitu penting menuliskan standar reportase 'kebaikan' dalam ILMU festival. Karena memang hampir tidak ada yang buruk di sini. Kalaupun ada, hal buruk tersebut sangat mudah dilupakan keberadaannya.

Bayangkan berada di antara puluhan musisi Indonesia dan Australia yang keseluruhan berpikiran positif dan seratus persen sadar bahwa sebaiknya kami, para musisi, tinggal di planet yang berbeda. Karena bahasa kita sama. Dan politik negara adalah hal yang selalu menggelitik di telinga kami. Politik hanya topik yang kebetulan sangat enak digosipkan karena terlalu banyak keburukan di dalamnya.

Hari pertama saya dihadapkan dengan dedengkot Elefant Traks dan Yes No Wave. Urthboy dan Wok The Rock. Mereka musisi dan di satu sisi juga aktifis musik. Kedua label independen mereka secara sukses mendistribusikan musik. Orang banyak bertanya bagaimana ini menjadi 'bisnis'. Ketika menyebut kata tersebut, mata kitapun menghijau ($$$). Dalam workshop Independent Music Business, ditemukan kenyataan bahwa musisi-musisi independen Indonesia yang tergolong "sukses" dan menyentuh benua lain, kebanyakan memiliki pekerjaan sendiri-sendiri selain musik. Meski keadaan kebanyakan berbalik di Australia, namun Urthboy berkata, kejadian seperti itu juga ada di negara lainnya. Dan memang, sebagai manusia, kita harus memiliki paling tidak satu mata pencaharian agar yang lainnya berjalan secara seimbang.



Yak! Bisnis tidak sepenuhnya uang. Saya pikir saya belum mencapai tahap berbisnis. Namun sebetulnya bertukar kepentingan dalam musik atau 'kolaborasi' juga bentuk bisnis. Pasti ada tendensi di belakangnya. Entah mengumpulkan portfolio saja atau bahkan bentuk sebuah kekaguman terhadap musisi yang kita ajak bekerjasama. Cukup bicara bisnis. Yang jelas kedua negara mengakui bahwa menjadi "sukses" membutuhkan konsistensi. (nr)

Tuesday, August 3, 2010

Yang Tak Ingin Dilupakan - Gendjer-Gendjer sayup memanggil

Sekitar Oktober 2008, Anita Barraud, seorang reporter dari ABC Australia, mendatangi saya dan mewawancara tentang isu komunisme paska orde baru. Saya dinilai sebagai rapper perempuan muda yang bebas mengekspresikan diri dan layak mewakili kaum muda berekspresi bebas lainnya. Hal itu saya dengar setelah kumpulan wawancara itu di siarkan lewat ABC dan BBC pada bulan Februari 2009. Dengan sangat lugunya, saya menceritakan tentang keluarga Kakung saya yang tentara dan Uti (nenek) yang dulunya bangga mendongeng tentang Kakung yang gagah berani memberantas PKI saat umur saya kira-kira 6 tahunan. Jaman itu sampai tahun '98, saya membenci film yang diputar tiap tanggal 30 September. Takutnya setengah mati.

Kurang mengerti akan mengapa isu ini banyak diperdebatkan, namun di titik tersebut, saat saya mulai mengenal 'dunia' saya sendiri di tahun 2008, di situ saya tahu bahwa ada sejarah yang ditutupi. Disebutkan sekitar 200.000-500.000 terbunuh karena tuduhan 'komunis'. Saya tidak menemukan angka pada laman bahasa Indonesia di wikipedia. Barusan saya menerima informasi, bahwa Kakung melindungi para PKI yang ada dalam kampung. Mengatakan pada atasannya, bahwa mereka ada di bawah lindungannya. Saya juga mendengar bahwa Uti terpaksa harus dipersenjatai karena keluarga terancam menerima pembalasan dari PKI. Namun saya juga baru tahu, bahwa kenyataannya kami masih utuh dan sehat, Kakung dan Uti sungguh mencoba melakukan yang terbaik bagi keluarganya dan masyarakat.

Isu ini masih terus terngiang di telinga hati saya. Sampai akhirnya suatu hari saya memutuskan untuk menyanyikan lagu Gendjer-Gendjer yang pernah dinyanyikan oleh Bing Slamet dan Lilis Suryani, dan diplesetkan oleh entah. Diganti semena-mena dengan mengganti Gendjer-Gendjer menjadi 'Jendral-jendral'. Tujuan saya sebetulnya sederhana. Lagu ini buat saya sangat indah dan saya penggemar sayur genjer. Mendengar kenyataan bahwa lagu ini dilarang untuk dinyanyikan sebetulnya menyakitkan hati saya. Saya suka kultur pertanian di Indonesia dan betapa itu menjadikan kita Nusantara yang seharusnya tak perlu menggali saja sebenarnya sudah kaya (kata Pak Karno). Saya ingin lagu ini terus dikumandangkan sebagai simbol kesederhanaan yang kita miliki sebagai bangsa, memakan tumbuhan liar sebagai pelengkap nasi dan jauh dari fitnah komunisme. Sungguh tidak ada yang salah pada lagu ini.

Memicu kontroversikah lagu ini jika dibawakan di masa kini? Mungkin.. Karena pada sejarah yang tertutupi mengatakan, banyak kaum tak berdosa yang ikut
terbunuh. Cerita hanya tersebar secara 'tutur' dibanding 'tulis', layaknya budaya Jawa yang turun temurun. Sesederhana apapun alasannya, semua yang berkaitan dengan jaman Orde Baru tidak akan dianggap sederhana.

Konon di kawasan Baung, Purwodadi, secara 'tutur' penduduk setempat mengatakan bahwa di sana terdapat pekuburan PKI. Saya yakin maksudnya adalah tempat dibuangnya jasad para penduduk desa yang entah memang telah masuk dalam partai tersebut atau memang murni Jawa yang dulunya menganut animisme. Di tahun tersebut, apapun yang tanpa agama dapat dianggap PKI. Padahal tidak mesti seperti itu. Sewaktu saya, sebagai EngageMedia mengorganisir Camp Sambel untuk para video aktifis se-Nusantara (Malaysia-Indonesia-Timor Leste) di kawasan tersebut, pada akhir acara saya melakukan sebuah pertunjukan. Dengan gitar dan dibantu teman saya, Donny, saya membawakan lagu rap dari TwinSista dan juga beberapa lagu lainnya serta ditutup dengan Gendjer-Gendjer.

Saya sudah diperingatkan oleh penduduk setempat untuk tidak menyanyikan lagu tersebut. Tapi saya bilang, "Saya tidak ada maksud jahat. Mereka pasti mengerti kalau memang mereka ada". Dengan tidak memperdulikan peringatan penduduk, lagu tersebut pun terlantuntkan dengan indah dan khusyuk. Sebentar setelah saya berhenti menyanyikan lagu dan pergi sejenak ke ruang komputer, listrik di seluruh desa pun mati. Rasa takut pun datang, entah mengapa. Karena saya bersama adik saya yang masih 8 tahun, tangannya saya genggam erat dan berusaha tenang.

Kembali ke kerumunan peserta camp, penduduk setempat menghampiri saya, menyuruh kami bergandengan tangan entah kenapa. Waktu itu saya cuma bicara pada mas Wandi. Dia cuma berkata, "ah.. ini tidak ada hubungannya". Saya dihampiri lagi. Mereka bilang, "tolong mbak.. yang penting mbak jangan sendirian. sekarang mbak baca doa menurut keyakinan mbak saja. Karena mbak tadi menyanyikan lagu Gendjer-Gendjer tanpa mengajak 'mereka' untuk gabung". Spontan saya langsung minta maaf pada siapapun yang gentayangan. Dalam hari saya berkata, "sungguh, saya cuma berusaha tetap ingat pada sejarah yang menurut saya benar".

Lampu kembali nyala. Yang tahu hanya beberapa orang saja termasuk adik saya. Perasaan saya berubah marah ketika melihat kenyataan bahwa adik saya pucat ketakutan. Tidak bisa saya biarkan begitu saja. Saya kembali menyanyi dengan riangnya supaya adik berhenti ketakutan.

Penduduk lokal datang lagi. Kali ini dengan perintah. "Mbak.. katanya minta dibakarkan ayam 2 potong dan minta mbak yang bawa ke dapur untuk dikasihkan kepada juru kunci, Pak Tris". Jadi saya kembali menyimpulkan, rupanya 'mereka' tidak marah sama sekali, melainkan ingin menjadi bagian dari pesta kami, para aktifis yang selalu mengenang kepergian mereka yang sia-sia. Saya membakar ayam-ayam itu dengan ikhlas. Saya hampiri Pak Tris dan berkata, "Niki Pak.. Sampeyan ngomong nggih.. Kulo mboten onten niat elek" (Ini pak.. Anda bilang ya.. saya tidak ada niat jelek).

Pada titik ini saya merasa ini adalah sebuah restu dari 'mereka' untuk terus menyanyikan lagu indah ini kapan pun saya mau. Selain itu, saya merasa mencuatnya 'mereka' dengan apapun sinyal yang mereka buat, lampu mati, minta sesaji dan yang lainnya, adalah pertanda bahwa 'mereka' tidak ingin dilupakan.

Wednesday, March 10, 2010

Prioritas dan Kecintaan akan hiphop




Sudah lama tidak berbagi isi otak dan hati saya yang terkadang kurang bisa dideterminasi pengklasifikasiannya. Just for info, kebiasaan nomaden saya belum berubah. Kali ini Malang menjadi tempat ternyaman untuk saya duduk dan melihat dunia luar lebih jelas. Dan kegiatan saya hari-hari ini cuma mencari rumah kontrakan baru dan mengisinya dengan barang-barang yang saya sukai. Karena itulah ada jeda cukup lama, mengingat berpindah dari Jogja ke Malang, disambi dengan pekerjaan aktifisme saya yang tidak berhenti cukup membuat saya berhenti sejenak menulis blog.

Biasanya, sebuah review akan terbit setelah ada acara yang telah diselenggarakan. Kali ini yang akan saya tulis bukanlah sebuah review. Katakanlah ini adalah sebuah harapan setelah acara ini dilaksanakan.

Tajuk dari acara ini adalah "APA KABAR HIPHOP JAWA TIMUR?". Dari tajuknya saja, saya merasa ikut diteriaki oleh siapapun yang menorehkan kata-kata tersebut di poster yang kini terpublikasi di dinding Facebook saya. Saya juga sebenarnya sempat menanyakan hal yang sama. Saya sempat ditanyai oleh salah satu teman di Jogja, "ngapain di Malang?". Katanya di Malang "gak asik". Kalau teman-teman baca ini, mungkin sekarang ingin teriak, "siapa bilang Malang gak asik?". Mungkin bahkan ada yang nanya, "Sopo, mbak wonge? kene tak antemane!" (artinya, siapa orangnya, sini biar saya pukulin). Biasa.. tabiat seperti itu juga ada di dalam darah saya. Tapi pengalaman serta tempaan keadaan membuat saya lebih baik dalam mengendalikan hal-hal seperti itu. Filosofi saya jadi berubah menjadi, "terlalu banyak yang terjadi di dunia ini. Dan semuanya menunjuk ke arah kehancuran. Namun tidak berarti harus apatis. Untuk apa kita menghabiskan energi demi hal yang tidak nyata. Sebaiknya bergerak untuk berubah agar sedikit lebih baik". Ada banyak yang harus dilakukan di dunia ini. Termasuk menyuarakan aspirasi saya lewat musik RAP.

Kalau saya boleh berkomentar tentang HIPHOP di Jawa Timur, sebenarnya kita masih ada. Paling tidak, saya masih ada. Beberapa nama pemain lama juga masih bisa disebutkan. Kontak person yang ada di poster juga menunjukkan nama orang lama. Jadi, jika kita tanya tentang bagaimana kabar komunitas, tentunya masih ada. Hanya saja, bentuk komunikasi telah berubah. Karena kami pun berubah. Prioritas kami pun berubah. Tidak ada banyak nama yang dapat dinilai konsistensinya. Namun kami yang masih mencintai dan menjalani musik ini dapat dilihat perannya masing-masing di dunia HIPHOP. Meski prioritas telah berubah, kami punya bukti sederhana. Paling tidak di dunia maya, kami masih mencoba untuk tetap berteman. Beberapa dari kami telah ditelan oleh ibu bumi, namun kenangan kebersamaan kami tak pernah hilang. HIPHOP tahun 2000an di Jawa Timur, meninggalkan romantisme mendalam dan persaudaraan yang tak kenal jaman hingga kini. Katakan jika saya salah.. Saya bersedia merevisi paragraf ini bersama anda yang bersuara..

Tipikal masalah yang muncul dalam hiphop adalah hiphop sebagai musik yang "menghasilkan" atau "tidak menghasilkan". Kita semua perlu ingat, bahwa kata "penghasilan" memiliki definisi yang luas dan berbeda bagi tiap-tiap orang yang menggunakannya. Bagi saya secara material memang menghasilkan. Meski hasilnya tidak dapat dibandingkan dengan artis-artis yang kerap muncul di infotainment. Tapi saya punya strategi. Saya tahu siapa yang mengkonsumsi lirik saya. Saya tahu harus ke mana. Tidak berada di sekitar teman-teman di Jawa Timur atau hiphop di Nusantara dalam waktu lama bukan berarti teman-teman bukan target pasar saya. Yang saya paham, selamanya kalian akan menjadi teman. Meski kalian muak karena saya terlalu banyak bicara yang berat-berat di panggung. Ha ha! Kenyataannya, tanpa mengurangi rasa hormat, selera hiphop saya berhenti sampai Perang Rap saja. Itu bukan hal yang narsistik. Jujur, saya suka sekali baik dari segi musik ataupun pergerakannya. Sungguh adalah suatu usaha yang kongkrit dan jelas tujuannya. Waktu itu KAMI INGIN DIDENGARKAN! Bagi yang terlibat di dalamnya dan tidak setuju akan perkataan ini juga boleh protes. Saya juga bisa salah dalam menginterpretasikan apa isi otak teman-teman. Mungkin tendensi dari kami per grup berbeda-beda. Tapi ada satu yang sama. Di segi ingin didengarkan oleh khalayak ramai.

Apabila boleh memberi saran, sebelum membuat sebuah konsep akan grup hiphop, yang terbaik adalah memikirkan apa dasar tujuan pembuatan grup tersebut. Setelah itu, maka akan mudah memetakan strategi pasar, siapa yang akan mendengarkan, ke mana akan disalurkan. Sungguh sangat normal dan umum, ketika mengetahui bahwa sebuah lagu di produksi tanpa tahu ke mana akan didistribusikan. Itu bukan masalah pada scene kita saja. Tapi pada semua scene musik underground dan alternatif, juga scene kreatif yang lainnya (video, art-performance, seni rupa, etc). Produksi terus berjalan tanpa ada strategi distribusi yang jelas. Fakta yang perlu diingat. Scene musik alternatif (di luar pop, dan dangdut) di Indonesia presentasinya adalah 10%. Dan kita ada di dalam 10% tersebut. Termasuk di dalamnya musik punk, underground dan tradisional. Bisa membayangkan seberapa kecilnya kita? Namun statistik ini tidak kongkrit. Jadi jangan sepenuhnya dipercaya. Jadikan sebagai gambaran saja. Karena bisa jadi angka ini mengecil seiring dengan perkembangan media elektronik juga. (ada pengaruh antara industri musik dan media elektronik).

Memiliki tujuan yang berbeda dalam ber-hiphop bukanlah masalah. Yang penting bagaimana kita saling membantu jika memang mampu untuk membantu. Saya rasa kata "HIPHOP" sudah cukup untuk menggambarkan bahwa kita ada di halaman pertama yang sama. Hanya saja, di balik halaman pertama tersebut terdapat bagian-bagian yang kalian sendiri penulisnya. Pilih saja warna dari hurufnya, coret saja dengan indah. Dan jangan lupa, ketika mendapati halaman itu telah penuh akan coretan teman hiphop mu, pilihlah halaman yang masih kosong. Karena "saling menindas" bukanlah hal yang indah untuk dipandang.

Salut bagi panitia penyelenggara acara ini. Saya harap kesimpulan terbaik dapat dicetuskan bagi kebaikan kita bersama. Tetap berpikiran positif. Dan ya.. perjuangan memang tidak pernah berakhir. Respect!

:: ditulis sambil mendengarkan album Sigur Ros.