Tuesday, December 14, 2010

We are the people with words.. - Hip Hop Lyric Critique #1, Malang

9 Desember 2010:

"maaf, Nova. HP ditaruh di tas. ini baru sampai di terminal Arjosari", itu sms dari Madiva anggota dari X-Calibour. "ok, aku jemput aja ya. ini aku baru mau berangkat".


Hujan sudah berhenti. Jalanan basah, matahari meninggalkan langit kota Malang dan lampu-lampu jalan bercermin di genangan air. Malang cukup indah menyambut semangat Madiva.


Di Soecorn sudah ada Wyna dan seperangkat soundsystem. Kursi-kursi sudah di tata di lantai paling atas, balcony yang menghadap ke Jalan Soekarno-Hatta dan pembangunan gila-gilaan di lapangan yang dulu cukup bersejarah bagi komunitas hip hop Malang dulunya. Kami suka nongkrong dan ngopi di warung Pak Ri yang punya tempe goreng paling enak se-Malang Raya menurut kami. Kami memandang jauh, tersenyum sedih karena masa itu sudah berganti.


Kabar buruknya, dua teman kami dari scene musik lain tidak jadi datang. Maka kami tidak memiliki lawan perspektif yang kami butuhkan. Tapi, tidak jadi masalah. Saya pribadi ingin melihat bagaimana kekuatan komunitas di kota Malang sekarang karena saya sudah absen kurang lebih tiga tahunan. Saya cukup terkejut melihat muka-muka lama dari delapan tahunan lalu. Diantaranya ada Da Dogers dan teman-teman Street Hip Hop, datang dengan style baju second hand seperti jaman awal kami bertemu. Wajah saya tidak bisa berhenti tersenyum. Mereka masih di sini :)


Sebetulnya ide mengadakannya forum ini adalah ketika saya menyaksikan teman rapper dari Solo yang membawakan lagu tentang "silit" atau lubang dubur. Maaf jika ini terdengar menjijikkan. Tapi saya kurang nyaman mendengar lagu ini dibawakan di tengah mall dengan penonton yang umurnya tidak bisa dibatasi. Dan cara pikir yang menyaksikan pun tidak bisa dibatasi. Bukan berarti saya tidak suka. Tapi saya lebih setuju apabila lagu tersebut dibawakan di depan gedung DPR untuk menyampaikan betapa "silit"-nya pemerintahan kita masa kini yang datang ke gedung tersebut hanya untuk pindah tidur.


Intinya adalah di mana tanggung jawab kita sebagai pelaku musik hip hop membawakan lirik kita. Sejauh mana kita menentukan "target audience". Sebisa apa kita menyamakan persepsi publik dengan apa yang kita tulis dan persembahkan ke publik.


Situasi semakin menghangat ketika salah satu teman kami, Doni Ukik, yang dulu berawal dari scene grunge dan akhirnya menemukan bahwa kita perlu menentukan identitas kita sendiri lalu menciptakan sebuah aliran musik yang dinamai ASIA-ANTIPOP, mulai angkat bicara tentang scene Hip Hop secara general. Saya sendiri mengakui bahwa pertanyaan tentang akar Hip Hop, muncul ketika Doni Ukik dan Donny Hendrawan (para anggota band Fresh Water Fish) datang

menemui saya dan Indry lalu bertanya, sebenarnya di mana "inti"nya? Benar akhirnya TwinSista menemukan bahwa Hip Hop adalah alat kami untuk menyalurkan pendapat. Dan akan seperti itu seterusnya, tanpa menutup diri pada aliran musik yang lain.


Diskusi tentang pentingnya lirik pun berkembang menjadi di mana INTI dari Hip Hop sebenarnya. Apakah ini sebuah pergerakan? Apakah ini sebuah budaya urban? Apakah ini adalah salah satu cara untuk mencari penghasilan? Apakah ini adalah sebuah bentuk pencarian eksistensi?


Sebenarnya itu mudah saja. Tidak berarti semua pertanyaan ini datang untuk menciptakan kebingungan. Tapi untuk menciptakan keberanian untuk mengambil salah satu pertanyaan tersebut dan menjawabnya serta menjadikannya prioritas. Apabila hiphop adalah 'underground', maka hip hop berperan sebagai sebuah perlawanan budaya mainstream dan berani menjadi minoritas. Berani mendekonstruksi sebuah pemahaman dan mendalami media yang sebenarnya, yang non-mainstream.


Madiva juga sempat membahas tentang ke-AKU-an dalam hiphop, yang sebetulnya intinya adalah sama dengan yang dikatakan Doni Ukik. Bagaimana kita sebagai pelaku hiphop menjadi percaya diri dalam menjalaninya. Tidak ragu-ragu dalam menciptakan budaya dan bukan hanya menjiplak budaya yang datang dari negara lain saja.


Meskipun pembahasan lirik ini menjadi lebih dalam dan filosofikal, namun kita dapat menarik kesimpulan. Yang terpenting dalam aliran musik atau scene apapun adalah FUNGSI nya. Entah itu fungsi musik yang kita bawakan atau fungsi dari kita masing-masing sebagai pelaku hip hop. Kita harus menyadari bahwa selamanya "mainstream" adalah dampak yang muncul setelah sebuah idealisme berkembang. Toleransi antara kita harus tetap berjalan dan selalu ingat bahwa selamanya toleransi dan fanatisme adalah berbeda.


Terima kasih untuk Wyna, Madiva, Doni Ukik dan semua teman yang mendukung jalannya acara ini. Saya yakin ini kita akan bertemu di diskusi-diskusi yang lainnya. IF we are rappers, we dare to sit down and talk, right? We are the people with words..