Monday, September 28, 2009

Movement Update

it's 'movement' in English. but activists will sensitively consider it as something more serious..

more updates for my 'movement', got 3 more gigs confirmed

OCTUBRE / OCTOBER '09
9 » Odense- near Copenhagen (DK) Phono Festival
10 » Brussels (BE) Globalocal Festival @ Auquai Link
15 » Limoges (FR) La Fourmie
22 » Rotterdam (NL) Textuur 4 @ Poortgebouw
23 » Amsterdam (NL) Amsterdam Dance Event @ OT301
24 » Thionville (FR) Festival Boulibatsch
29 » Lyon (FR) Transbordeur
.....................................................
NOVIEMBRE / NOVEMBER '09
5 » Bilbao (ES- Euskadi) Bilbo Antzerkia Dantza
6 » Ljubljana (SI) Channel Zero
7 » Torino (IT) Club to Club Festival
12 » Salzburg (AT) Tube Klub
13 » Steyr (AT) @ Roeds
14 » Pontarlier (FR) festival zikaponium
20 » Barcelona (ES) Culture @ WTC, porto de bcn
21 » Granada (ES) Subdivision @ El Tren

finally will play in Bcn!

www.novaruth.com
www.filastine.com
www.myspace.com/novatwinsista
www.myspace.com/filastine

Sunday, September 27, 2009

Maroon Train in Altenglan


Spoor_nova, originally uploaded by novaruth.

Have I told you that I worked for a train magazine once? Maybe most people who are still working there didn't notice. But I do always enjoy my train ride. Admiring how people built the railways across the cities, villages, even countries and thinking about what am I going to do without this beautiful invention.

I took a train a lot on my 2 years staying in Jakarta. Almost got killed once because I couldn't get out of the over-loaded carriage from Bogor-Depok, injured my knee once, but mostly it has been fun being with thousands of individualist stoic faces people in there. I learned many things from that. I know exactly why we were racing to get out of that humid and rusty carriage. Now I never stop grateful for the life that I have now and I don't mind to take that economy class Bogor-Jakarta again someday.

I'm still in Altenglan, Germany. Feed myself with meats and diaries before my next long trip across Europe for music. This time I got lucky. Few old locomotives operating just 2 days before the September soon will end. I took video for the older locomotive, but now i'll show you this beautiful maroon train picture I took with a better camera than mine. Reminds me of how I drawed those details for that train magazine few years ago. Makes me thankful for every little experiences I had in the past.

Catatan Kecil bagi yang berbahasa Indonesia:
Ini buat yang suka sama kereta. Termasuk Abba ku Toto Tewel, Dian Pujayanti, Grey, Indie Triana, Geoff Warren, dan teman-teman yang kerja di Majalah KA :). SIlahkan download fotonya untuk kepentingan non-komersial dan non-modifikasi.

Wednesday, September 23, 2009

2 minggu di Jerman

Bicara tentang sekarang, tumpukan pohon di luar jendela yang hampir kuning karena musim gugur hampir tiba, mengingatkan pada Indonesia yang tahun lalu memecahkan rekor Guiness (http://www.vhrmedia.com/Indonesia-Negara-Deforestasi-Tertinggi-Sedunia-berita2239.html) sebagai negara perusak hutan tercepat di dunia. Ironi memang, ketika keadaan memaksa untuk memilih antara kenyamanan dan keprihatinan. Jauh dari kata tolak saat dihadapkan pada kemudahan akses yang ditawarkan Eropa pada orang-orang yang mendudukinya. Seberapa rumit departemen pajak menuntut ini itu, tidak serumit tinggal di Indonesia dengan tabrakan emosional yang hanya dirasakan oleh orang-orang dengan sensitifitas lebih dan minim individualisme.

Sekarang saya ada di Altenglan. Kota terdekat dari sini adalah Kaiser-Slautern. Seingat saya piala dunia pernah menyentuh kota tersebut. Desa ini begitu sepi, tapi tidak menjadikan Indonesia adalah tempat ramai yang lebih tepat untuk dihuni. Berada di desa seperti ini membuat penduduknya tahu bagaimana bertahan hidup di musim dingin. Wanita tua hampir 80 tahun saja masih pergi membeli 3 krat air mineral sendirian. Malu menjadi bagian dari generasi instan mungkin adalah pernyataan yang lebih berguna untuk dilontarkan. Tidak bermaksud untuk mempermalukan bangsa sendiri, namun sungguh, kebebasan dan kemudahan di negara ku membuat banyak orang malas untuk bergerak dan selalu bercita-cita untuk membeli sebesar mungkin kendaraan bermotor, supaya lemak bisa lebih subur tumbuh dan menutupi fungsi otot dan tulang yang sebenarnya.

Kenapa saya di sini? Saya menghabiskan 2 minggu ini karena Filastine melanjutkan tur nya ke Rusia, yang saya sebut sebagai negara paling adil di dunia. Karena visa untuk memasuki Rusia sangat susah meskipun untuk warga negara Amerika yang notabene mudah untuk memasuki negara manapun. Jadi saya tidak perlu komplen atas kenyataan tersebut. Di Rusia, selain kaum mereka, semua orang dianggap asing. (peringatan: dilarang stereotip pada pernyataan barusan). Ada baiknya juga berada di desa terpencil di Jerman. Setidaknya dapat belajar budaya Jerman sebenarnya. Di mana setiap kami berjalan-jalan menyusuri desa kata "guten tag" selalu dilontarkan. Hampir seperti di kampung saya di Malang, kalau tidak bilang "monggo" dianggap tidak sopan..

Mülbach from the window

:: dari luar jendela ruang komputer mbak dina

Tuesday, September 22, 2009

More to go

some more schedule in Europe!
break your ears on one of this gigs!! or more..

--- Oct 9, 2009, Phono Festival, Odense
--- Oct 10, 2009, Globalocal Festival, Brussels
--- Oct 15, 2009, La Fourmie, Limoges
--- Oct 22, 2009, Textuur 4 @ Poortgebouw, Rotterdam
--- Oct 23, 2009, Amsterdam Dance Event, Amsterdam
--- Oct 29, 2009, Transbordeur, Lyon, Rhône-Alpes
--- Nov 5, 2009, Bilbo Antzerkia Dantza Bilbao
--- Nov 6, 2009, Channel Zero, Ljubjana
--- Nov 7, 2009, Club to Club Festival Turin / Torino
--- Nov 12, 2009, Tube Klub Salzburg, Salzburg
--- Nov 14, 2009, Festival Zikaponium Pontarlier
--- Nov 21, 2009, Subdivision @ El Tren Granada

i haven't launch my website yet, but you are all welcome to see the temporary interface made by my friend from puredesign, Arief Darmawan.

www.novaruth.com

write more later!

Thursday, September 17, 2009

Bike ride conversations in Pays-Bas

my hat on a bike, Amsterdam
:: Nova's fuzzy hat on a bike in AMS

Tell me one good reason for not being politically aware. While what I see in between countries is a huge different with my so-called rich country (Indonesia). If you are here with me and open your eyes as wide as mine, you probably will questioned, where all those oil, gas, endless padi field for all season goes? It might be shipped to other part of the world with big fat corrupted money, or might be burned with the lack of awareness of the destruction of nature by human - the most dangerous creature on earth.

I'm in Holland. The root of longest colonizer of Indonesia. It's been 350 years in captivity, made my anarchist friend in Amsterdam, Grrrt, expressed his guilty feeling about the history between us, as nations.. In one conversation while he played Indonesian street's music record - I was laughing at the lyric because it said about a girl begging a guy to kiss her after their long relationship (with no physical activity) - he said, he need a good reason to come to Indonesia. Otherwise it'll be just a bullshit touristic thing to do.

Pays-Bas, that's how we call it in French. It means "the land below" (the sea surface). This country is so small that you can go to one city to another in one hour train. I don't know why I want to forget about this grudge we have because of the past. Somehow I couldn't generalize anything anymore. Even in one most corrupted country, you will find a true good friend that maybe could give you a good book to read to continue your long trip.

Stop by in Rotterdam before a big gig in Tilburg, finally met some true friends I haven't met for years. It's Marc (www.onemannation.com) from Singapore and Cedrik (http://www.myspace.com/cdrk) from Belgium. More good friends also around, but Marc and Cedrik are the people who still keep in touch with me through the unrealist media called internet. Finally we could go back to the nice memory of underground scene in Indonesia. Finally talk about some more old friends we were all knew. Finally we talked about big mice in Jakarta.

I had a nice bike ride in both cities. Stopped a while beside a huge river in Rotterdam during my bike ride with Marc and talked about my sad emotional and personal thing that happen recently, and then we rode our bike again, through the amazing tunnel only for bikes, realized that life must go on... sometimes hardly..

Erasmus bridge, Rotterdam

:: with Marc, Erasmus Bridge

Sunday, September 13, 2009

to me is like an anthropology experience

Stavanger, Norwegia. Mungkin energi dari air yang membuat kami merasa lebih tenang. Festival yang diadakan di pinggir pantai dalam gedung bekas entah pabrik apa itu, membuat salah satu penonton mengatakan, "penampilan kalian adalah pertunjukan terbaik tahun ini!". Tapi kami kurang yakin. Jangan-jangan karena memang tidak terlalu banyak acara diadakan di sini.

Tur Norwegia dengan formasi benar-benar baru kali ini juga membawa kami ke pengalaman benar-benar baru pula. Tur musik kami ubah menjadi tur-istic day. Kami memutuskan untuk pergi ke Fjord. Fjord adalah air laut yang masuk sangat jauh ke daratan. Di sekitarnya terdapat tebing-tebing yang menantang langit. Sungguh indah. Kami ditemani oleh Petre yang akhirnya mengambil foto dari kami bertiga. Formasi Filastine yang tidak biasa.

Pada makan malam di apartemen Petre, barulah kami tahu terdapat banyak warga negara Eropa yang semuanya menggunakan bahasa "internasional" - inggris - yang bekerja untuk perusahaan minyak besar di Stavanger. Seperti di Indonesia? Balikpapan? Batam? Soroako? Atau malah Freeport? Seperti di kebanyakan tempat, ketika sebuah tempat dirusak dan digali habis sumber dayanya, orang lokal tidak akan terlalu peduli akan uang tebal yang disediakan oleh para inverstor dan pengusaha. Mungkin karena itu lebih banyak orang dari luar daerah diperkerjakan? Tidak perlu merasakan romantisme lokal yang ketika hilang mungkin akan menimbulkan kesedihan yang mendalam.

Fjord-Norway

:: Nova Ruth, Grey Filastine, Amelie Bouard

Monday, September 7, 2009

Pertama mendarat di tanah Eropa

Ditengah menahan gatal di muka karena perbedaan udara, detail desain bangunan Eropa tampak sungguh indah, hingga pertanyaan yang terbesit adalah, "apa yang ada di balik semua keindahan tersebut?".

Melihat keadaan Indonesia, saya paham mengapa semua mengatakan bahwa kita tertinggal puluhan tahun di belakang negara dunia pertama, meski tak banyak orang tahu bahwa standar berfikir dan berstrategi kita sebagai Indonesia tak kalah jauh JIKA dan hanya JIKA kita dapat menyadarinya.

Sistem kereta api yang begitu mudah dipahami, sungguh beda dengan naik KRL Depok-Jakarta. Lalu muncul lagi di benak saya, "pasti seluruh pendatang di Jakarta tidak mungkin menemui kesulitan dengan jelasnya arah dan penjelasan yang terpampang di sudut-sudut stasiun".

Sementara otot-otot perut menahan dingin, 2 panggung di dua negara, Perancis (Strassburg) dan Swiss (Genewa) sedikit menghangatkan tubuh. Bergerak, menyanyi dan omelan berbahasa Indonesia yang meski penonton tidak mengerti, mereka melontarkan kata "salut" pada akhir pertunjukan sungguh membantu mengatasi udara di utara katulistiwa.

Pantat saya telah mendarat di Lyon (Perancis) untuk beberapa hari. Sedikit beristirahat dan menikmati adzan samar-samar yang tidak bisa di dengar di sebagian besar Eropa. Sedikit tentang Lyon.. di sini terdapat komunitas muslim terbesar di Perancis. Anda bisa bau aroma kebab di tiap sudut jalan kecil berbatu yang indah menuju katedral yang besar..

Lyon from Plateu