Wednesday, September 23, 2009

2 minggu di Jerman

Bicara tentang sekarang, tumpukan pohon di luar jendela yang hampir kuning karena musim gugur hampir tiba, mengingatkan pada Indonesia yang tahun lalu memecahkan rekor Guiness (http://www.vhrmedia.com/Indonesia-Negara-Deforestasi-Tertinggi-Sedunia-berita2239.html) sebagai negara perusak hutan tercepat di dunia. Ironi memang, ketika keadaan memaksa untuk memilih antara kenyamanan dan keprihatinan. Jauh dari kata tolak saat dihadapkan pada kemudahan akses yang ditawarkan Eropa pada orang-orang yang mendudukinya. Seberapa rumit departemen pajak menuntut ini itu, tidak serumit tinggal di Indonesia dengan tabrakan emosional yang hanya dirasakan oleh orang-orang dengan sensitifitas lebih dan minim individualisme.

Sekarang saya ada di Altenglan. Kota terdekat dari sini adalah Kaiser-Slautern. Seingat saya piala dunia pernah menyentuh kota tersebut. Desa ini begitu sepi, tapi tidak menjadikan Indonesia adalah tempat ramai yang lebih tepat untuk dihuni. Berada di desa seperti ini membuat penduduknya tahu bagaimana bertahan hidup di musim dingin. Wanita tua hampir 80 tahun saja masih pergi membeli 3 krat air mineral sendirian. Malu menjadi bagian dari generasi instan mungkin adalah pernyataan yang lebih berguna untuk dilontarkan. Tidak bermaksud untuk mempermalukan bangsa sendiri, namun sungguh, kebebasan dan kemudahan di negara ku membuat banyak orang malas untuk bergerak dan selalu bercita-cita untuk membeli sebesar mungkin kendaraan bermotor, supaya lemak bisa lebih subur tumbuh dan menutupi fungsi otot dan tulang yang sebenarnya.

Kenapa saya di sini? Saya menghabiskan 2 minggu ini karena Filastine melanjutkan tur nya ke Rusia, yang saya sebut sebagai negara paling adil di dunia. Karena visa untuk memasuki Rusia sangat susah meskipun untuk warga negara Amerika yang notabene mudah untuk memasuki negara manapun. Jadi saya tidak perlu komplen atas kenyataan tersebut. Di Rusia, selain kaum mereka, semua orang dianggap asing. (peringatan: dilarang stereotip pada pernyataan barusan). Ada baiknya juga berada di desa terpencil di Jerman. Setidaknya dapat belajar budaya Jerman sebenarnya. Di mana setiap kami berjalan-jalan menyusuri desa kata "guten tag" selalu dilontarkan. Hampir seperti di kampung saya di Malang, kalau tidak bilang "monggo" dianggap tidak sopan..

Mülbach from the window

:: dari luar jendela ruang komputer mbak dina

No comments:

Post a Comment