Monday, September 7, 2009

Pertama mendarat di tanah Eropa

Ditengah menahan gatal di muka karena perbedaan udara, detail desain bangunan Eropa tampak sungguh indah, hingga pertanyaan yang terbesit adalah, "apa yang ada di balik semua keindahan tersebut?".

Melihat keadaan Indonesia, saya paham mengapa semua mengatakan bahwa kita tertinggal puluhan tahun di belakang negara dunia pertama, meski tak banyak orang tahu bahwa standar berfikir dan berstrategi kita sebagai Indonesia tak kalah jauh JIKA dan hanya JIKA kita dapat menyadarinya.

Sistem kereta api yang begitu mudah dipahami, sungguh beda dengan naik KRL Depok-Jakarta. Lalu muncul lagi di benak saya, "pasti seluruh pendatang di Jakarta tidak mungkin menemui kesulitan dengan jelasnya arah dan penjelasan yang terpampang di sudut-sudut stasiun".

Sementara otot-otot perut menahan dingin, 2 panggung di dua negara, Perancis (Strassburg) dan Swiss (Genewa) sedikit menghangatkan tubuh. Bergerak, menyanyi dan omelan berbahasa Indonesia yang meski penonton tidak mengerti, mereka melontarkan kata "salut" pada akhir pertunjukan sungguh membantu mengatasi udara di utara katulistiwa.

Pantat saya telah mendarat di Lyon (Perancis) untuk beberapa hari. Sedikit beristirahat dan menikmati adzan samar-samar yang tidak bisa di dengar di sebagian besar Eropa. Sedikit tentang Lyon.. di sini terdapat komunitas muslim terbesar di Perancis. Anda bisa bau aroma kebab di tiap sudut jalan kecil berbatu yang indah menuju katedral yang besar..

Lyon from Plateu

No comments:

Post a Comment